Ad Section

Friday, August 30, 2019

Bagai mana Perkembangan Wisata Halal Di Indonesia



PERKEMBANGAN WISATA HALAL

Wisata Halal di Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk mayoritas beragama islam. Menurut Badan Pusat Statsitik pada tahun 2010, warga muslim di Indonesai sebanyak 87,18%, sedangkan lainnya

Sebagai upaya untuk mengembangkan wisata halal (halal tourism), Indonesai berusaha meningkatkan keberadaan hotel syariah. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia telah membuat pedoman penyelenggaraan hotel syariah. Syariah yang dimaksud disini adalah prinsip-prinsip hukum islam sebagaimana yang diatur fatwa dan atau telah disetujui oleh Majelis Ulama Idonesia (MUI). Pada tahun 2013, terdapat 37 hotel syariah yang telah bersertifikat halal dan 150 hotel menuju operasional syariah. Terdapat sebanyak 2.916 restoran dan 303 diantaranya telah bersertifikasi halal, dan 1.800 sedang mempersiapkan untuk sertifikasi (Kementrian Pariwisata, 2015).

Contohnya Kementrian Pariwisata yang melakukan kerjasama dengan Dewan Syariah Nasional (DSN), Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Lembaga Sertifikasi Usaha (LSU). Wujud konkret kerjasama tersebut yaitu dengan cara mengembangkan pariwisata serta mengedepankan budaya serta nilai-nilai agama yang kemudian akan dituangkan dalam Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Jaelani, 2017). Selain itu juga dilakukan pelatihan sumber daya manusia, sosialisasi, dan capacity building. Pemerintah juga bekerja sama dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk menyediakan penginapan halal dan tempat makan yang bisa menyajikan menu makanan halal, dan bekerjasama sama juga dengan Association of the Indonesia Tours and Travel (ASITA) untuk membuat paket wisata halal ke tempat wisata religi. Walaupun wisata halal (halal tourism) tidak hanya terbatas pada wisata religi saja (Kementrian Pariwisata, 2015). Kementrian Pariwisata (2015) dalam laporannya mencatat bahwa terdapat 13 provinsi yang siap untuk menjadi destinasi wisata halal (halal tourism) yaitu Aceh, Banten, Sumatera Barat, Riau, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Bali.

MALAYSIA

Malaysia merupakan negara multikultural yang terdiri dari tiga budaya besar yaitu Melayu, Cina, dan India. Agama Islam menjadi agama resmi sedangkan agama lain seperti Budha, Hindu, dan Kristen tetap disambut dengan baik oleh penduduknya. Malaysia menerapkan suatu peraturan yang sesuai hukum Islam yang bisa diterima oleh warga muslim maupun non muslim (Din, 1989).

Pariwisata merupakan sektor penyumbang pendapatan terbesar kedua di Malaysia (Bhuiyan et al. 2011). Pada awalnya Malaysia berusaha menarik wisatawan dari Timur Tengah (Middle East). Namun setelah peristiwa 11 September, Malaysia beralih untuk mengambil keuntungan melalui sektor pasar Muslim (Salman dan Hasim, 2012). Maka sejak tragedi 11, Malaysia menjadi negara tujuan terbesar wisatawan muslim (Hamzah, 2004). Hal itu juga disebabkan oleh aturan yang ketat di negara-negara barat untuk wisatawan muslim, sehingga mereka mengalihkan tujuan perjalanannya ke negara-negara Timur (Islamic Tourism Centre, 2015).

JEPANG

Jepang menjadi tujuan pilihan bagi wisatawan global karena keunikannya dalam budaya, pemandangannya yang memukau dan lanskap metropolitan yang menakjubkan (Yusof dan Shutto, 2014). Jumlah wisatawan semakin mengalami peningkatan sejak Jepang melakukan promosi wisata “Visit Japan” ke berbagai negara pada tahun 2003. Selain itu, Adanya peluncuran penerbangan berbiaya rendah ke Jepang, telah mendorong sektor pariwisata di negara tersebut. Hal tersebut membuat banyak wisatawan muslim, khususnya Malaysia menganggap Jepang sebagai tujuan wisata mereka (Yusof dan Shutto, 2014; Somori et al. 2016). Jepang juga memiliki beberapa strategi dalam meningkatkan pelayanan terhadap wisatawan, salah satunya melalui konsep omotenashi. Omotenashi adalah keramahtamahan dalam menerima tamu (wisatawan) yang menjadi khas Jepang. Sebuah pelayanan berkualitas tinggi dari hati sehingga terjadi interaksi (touchpoint) dan komunikasi yang baik antara penyedia jasa atau penjual dan pelanggan.

KOREA SELATAN

Meningkatnya wisatawan asing ke Korea Selatan sejak munculnya fenomena “hallyu wave” atau korean wave (Lee, 2011; Parc dan Moon, 2013). Termasuk wisatawan yang berasal dari negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim. Wisatawan muslim mancanegara di Korea Selatan mengalami peningkatan. Khususnya dari negara Malaysia dan Indonesia (Han et al. 2018). Tingkat pertumbuhan rata-rata selama tahun 2010 hingga 2014 sebesar 21.1 persen (Malaysia) dan 21.6 persen (Indonesia) (Korean Tourism Organisation, 2015). Tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan dari 2010 hingga 2014 sebesar 32.7 persen yang menunjukkan peningkatan yang stabil. Menurut Korean Tourism Organisation (2015), jumlah wisatawan muslim yang berkunjung ke Korea Selatan diperkirakan akan mencapai sekitar 1.3 juta wisatawan pada tahun 2020. Selain itu, dampak ekonomi dari wisatawan muslim yang masuk ke Korea Selatan diperkirakan sebesar 40 milliar dollar (produksi) dan 20 miliar dolar (nilai tambah). Diharapkan juga sektor pariwisata yang baru muncul ini akan menghasilkan lebih dari 80 ribu pekerjaan yang secara langsung atau tidak langsung terkait dengan wisata halal di Korea Selatan.







About Author

seo.wahyustudio
seo.wahyustudio

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet nostrum imperdiet appellantur appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment

Subscribe Now

Distributed by Blog Templates